Melihat Kedamaian Pulau Aceh dari Mercusuar Willem III

♠ Posted by Unknown at 21.05






Melihat Kedamaian Pulo Aceh dari Mercusuar Willem Toren III
BERKUNJUNG ke Pulo Aceh, sempatkan untuk menjajaki Mercusuar Willem Toren III yang letaknya di ujung Pulo Breuh (Pulau Beras).
Dari puncak menara ini bisa menikmati keindahan panorama ujung paling barat Indonesia. Willem Toren yang berada di balik hutan Gampong Meulingge, Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, merupakan tower peninggalan Pemerintah Belanda yang dibangun 1875. Mercusuar ini mengadopsi nama Raja Luxemburg kala itu, Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk (Raja Willem III).
Menara bundar setinggi 85 meter ini kabarnya hanya ada tiga di dunia. Selain di Pulo Aceh, tower serupa juga ada di Belanda dan Kepulauan Karibia. Namun yang di Belanda sudah difungsikan sebagai museum, sementara dua lainnya masih aktif.

Perjalanan menuju Willem Toren Pulo Aceh cukup menantang. Jalur utama ke sana dari depan SD Negeri Meulingge.
Ada sepotong jalan yang membelah hutan hingga ke tower. Jalannya mulai menyempit tertutup belukar, penuh tanjakan juga turunan. Bertabur lubang bekas kubangan dan batu cadas.
Saat kami bertandang ke Pulo Breuh cuacanya cerah, sehingga memungkin untuk mendaki dengan sepeda motor ke ujung pulau tempat menara berdiri. Jarak tempuhnya kurang dari satu jam.
Berulang kali motor kami terperosok ke lubang bekas kubangan dan tersandung batu. Butuh konsentrasi ekstra terutama saat di turunan, karena salah-salah bisa meluncur ke jurang. “Turunnya harus pakai gigi satu,” kata Husaini, pemuda setempat yang memandu kami.
Perjalanan melelahkan akhirnya terbayar dengan keindahan alam di komplek Willem Toren. Setelah melewati gapura, terdapat beberapa bangunan peninggalan Belanda yang sedang direhab.
Di ujungnya berdiri kokoh tower raksasa merah putih menjulang tinggi dengan ketebalan dinding betonnya mencapai satu meter. Inilah Willem Toren.
Begitu mendapat izin dari petugas di sana, kami langsung masuk ke dalam menginjak ratusan anak tangga menuju puncak menara. Pada dindingnya terdapat beberapa jendela dilapisi kaca tebal.
Lelah menaiki tangga seketika hilang saat berada di pucuk menara. Pemandangan indah tersaji dari balik ruangan kaca yang di dalamnya terpasang sebuah lampu sorot raksasa yang bisa berputar-putar.

Lampu ini akan menyala di malam hari, menembakkan cahaya hingga ke parairan international Samudera Hindia dan pintu masuk Selat Malaka. Fungsinya sebagai pengatur lalu lintas laut yang sering dilintasi kapal-kapal besar.
“Lampu ini memberikan kode ke tengah laut,” ujar Erlando, petugas navigasi dan penjaga Willem Toren Pulo Aceh.
Di luar ruangan kaca ada teras bundar di keliling pagar besi, tempat paling asik menikmati hembusan angin laut yang menenangkan, dan panorama Pulo Aceh nan memanjakan mata.
Laut biru kehijau-hijauan tampak terhampar hingga ke kaki langit, berpendar-pendar disengat matahari. Pulau-pulau kecil seperti mengapung di Samudera Hindia. Menoleh ke bawah ada daratan berselimut pohon menjurus ke laut. Ombak bergumul dengan karang memunculkan buih putih.

Menghadap ke utara terlihat Pulau Weh, Sabang memanjang biru di seberang lautan, di atasnya awan putih meriak. Dari kejauhan juga terlihat Rondo, pulau terluar di Indonesia yang tanpa penghuni tapi dijaga TNI Angkatan Laut serta petugas navigasi kelautan.
Menatap ke sisi selatan tersaji hamparan bukit hijau yang menjorok ke laut. Buih putih meriak indah di bebatuan pada kaki daratan. Air jernih yang melandai di pinggiran memunculkan perpaduan toska dan kehijau-hijauan dari pasir putih serta karang yang terendam.
Di bagian timur terlihat beberapa bangunan peninggalan Belanda memanjang, kemudian bebukitan hijau serta ujung daratan yang menjorok kelaut. Sungguh pemandangan yang eksotik.


0 komentar:

Posting Komentar